Hari mulai senja, semburat jingga meghiasi angkasa.
Waktu menunjukan pukul 18.00 WIB, suara adzan berkumandang. Tepat saat menuju
mushola aku melihatnya, lelaki yang selama ini selalu aku sakiti tapi tetap
menyayangiku. Entah sudah berapa lama kami berpacaran, namum hatiku masih saja
bukan untuknya. Dia menyalamiku “assalamualaikum, nanti pulang mau diantar
sampai rumah?” “waalaikumsalam, gak ahh.. aku bisa pulang sendiri aku kan bukan
anak kecil lagi” jawabku sedikit ketus, tetapi masyaallah dia hanya tersenyum
ramah. Terkadang aku berpikir untuk putus dengannya, aku tidak ingin
membohonginya lebih lama lagi.
Keesokan hari aku bertemu kembali dengannya saat
akan berangkat sekolah, dia tidak menyapaku. “kamu kenapa sih?” kutatap dia
penuh tanya. “aku tau apa yang kamu pikirkan selama ini, aku tau kalau hatimu
bukan untukku. Aku tau semuanya Acha, kenapa kamu tidak bisa mencintaiku
seperti aku mencintaimu? Jawablah acha, kumohon!”. Wajahku pucat pasi, tanganku
gemetaran, badanku keringat dingin. Aku kaget setengah mati mendengarnya,
ucapan itu bak halilintar yang menyambar ku di siang bolong. “kamu kenapa
ngomong gitu, aku sayang kok sama kamu. Kamu jangan pernah mikir gitu lagi ya
sayang, cintaku cuma buat kamu kok. Sudahlah ayo berangkat sekolah, keburu telat
nih.” Hanya itu yang bisa aku katakan.
Saat tiba di sekolah aku duduk termenung dipojokan
kelas, sendirian dan mulai berpikir. Apakah aku salah? Apakah yang aku lakukan
sekarang ini benar? Kenapa aku tidak jujur pada hatiku Tuhan? Aku memang
mencintainya tapi itu dulu, dulu sekali. Batin dan pikiranku terus berkecamuk
tak tentu. “Acha!!!!” kata itu membuyarkan lamunanku. “apasih, brisik tauk..
jangan pernah teriak di telingaku!! Sakit nih.” Bentak ku pada sahabatku satu
ini, Reya. “kamu lagi galau ya? Kok bengong terus daritadi, kalo ada masalah
cerita dong! Katanya sahabat, sahabat itu harusnya berbagi cerita senang maupun
duka bukannya kaya gini. Itu sih kalo kamu masih nganggap aku sahabatmu ya
cha.” Sepertinya Reya sebal dengan perkataanku padanya tadi, dia gadis cantik
berkerudung dengan tubuh ideal, berkulit sawo matang dan sangat ramah tapi
brisik minta ampun. Aku sangat menyayangi sahabatku ini.
“Rey, menurutmu apakah aku harus jujur pada Diki
kalau aku sudah tidak mencintainya lagi? Jujur aku sudah tidak tahan dengan
semua ini. Aku sudah tidak sanggup lagi berbohong padanya. Cintanya yang begitu
tulus padaku, senyumnya yang ramah, belaiannya yang penuh cinta kasih dan
hangat membuatku nyaman bersamanya. Tapi apakah ini hanya rasa nyaman, karena nyaman
belum pasti cinta.” Kataku sambil terisak. “yahhhh.... menurutku ya cha, kamu
jujur aja deh sama dia. Berbohong terus-terusan itu gak baik loh cha. Coba deh
kamu bayangin suatu saat dia udah sayang banget nget nget sama kamu terus mau
ngelamar kamu terus kamu mau gimana? Nolak dia? Kamu jahat banget tauk Cha.
Bisa-bisa dia bunuh diri gantung di pohon kelapa, kan serem cha. Hiiiiiiiii aku
jadi merinding nih, terus kalo nanti arwahnya gentayangan gimana coba? Terus
dia ngejar kamu terus.” Reya semakin gak jelas, tanda-tanda dia laper. “Reya,
kok kamu malah bikin aku parno gitu sih. Aku ini minta pendapat kamu, ehh kamu
malah nakut-nakutin aku kaya gini. Kamu gimana sih? Kamu malah memperkeruh
suasana tau gak. Please Rey, sekali ini aja jangan bercanda, serius dong
sekali-kali. Aku bakal mutusin dia secepatnya Rey.” Kataku pasti.
Sebulan telah berlalu, aku sudah mantap akan
menjomblo untuk sementara waktu. Laki-laki jangkung dan berkacamata itu telah
menungguku di depan rumahku. “hai sayang, kamu cantik sekali.” Sapanya dengan
mengelus rambutku. “iya yang makasih, jadi main gak?” kataku. “jadi sayang”.
Seperti remaja pada umumnya, dinner super romantis. Aku harus mengatakannya,
“yang maaf kita udah gak cocok kita harus putus. Aku minta maaf kalo aku baru
bilang sekarang, aku udah lama gak ada rasa lagi sama kamu jadi mendingan kita
udahan aja ya.” Wajah laki-laki itu pucat pasi, matanya memerah dan tangannya
gemetaran. Aku sangat merasa bersalah karena itu, aku memegangnya. Aku terkejut
badannya sangat panas, ternyata sedari tadi dia sedang demam dan memaksakan
diri hanya untuk pergi denganku. “aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin
apapun kecuali kamu. Aku akan melakukan apapun yang kau minta asalkan jangan
menyuruhku pergi dari sisimu. Aku takut kamu kenapa kenapa, kamu kan gak pernah
bisa melakukan apapun sendirian sayang.” Katanya sambil tersenyum tapi dengan
derai air mata. Aku pun akhirnya pasrah, tetap disisinya dengan kasih
sayangnya. Memang terkadang dicintai lebih menyenangkan daripada mencintai.
Sakit sekali saat melepaskannya, aku sadar cinta tidak menyadari kedalamannya
dan akan terasa saat perpisahan tiba. Dan saat tangan laki-laki menyentuh
tangan perempuan mereka berdua telah menyentuh hati keabadian.



