Seruan kicau burung di pagi hari membangunkan tidur
lelapku, kuusap kedua mataku dan segera bangun. Membuka jendela, merasakan
sejuknya udara pegunungan. Tetesan embun di dedaunan membuatku takjub, duduk
diam dan berkata “terimakasih Tuhan, engkau masih membangunkanku dalam keadaan
sehat tanpa kurang suatu apapun bersama orang-orang yang aku sayang.” Tak
henti-hentinya aku mengucap syukur pada Tuhan berkat kemurahan hatinya aku
masih bisa bernafas menikmati keindahan dunia ini.
“selamat pagi Rika” sapa kedua orangtuaku, orang
yang paling berharga dihidupku. Aku rela melakukan apapun demi kedua orangtuaku
tercinta, bahkan bila harus menjual ginjalku untuk mereka aku rela. Kami hidup
bahagia dan kecukupan, “sarapan dulu Rika, nanti mag kamu kambuh kalo gak
sarapan” kata mamaku sedikit membentak. Mamaku memang sedikit galak, beliau
seorang ibu rumah tangga bertubuh gemuk dan sederhana. Berbeda dengan papaku
yang sangat modern style dan jarang berbicara, tetapi sering memukulku. Aku
hidup di keluarga yang labil, terkadang lembut tapi juga kasar. Aku sudah kebal
sekarang, karena sering dipukul ditendang ditempeleng dan dibanting juga
pernah. Sakit hati ini kalau mengingatnya.
Akhir-akhir ini penyakitku sering kambuh. Aku mulai
sering merasa pusing, lemah, letih, dan lesu. Aku memang kekurangan darah merah
dan terlalu banyak darah putih di tubuhku. “brukkkk....” aku pinsan. “Rika..
Rika.. bangun sayang, jangan membuat mama khawatir. Kamu kenapa sayang, apa
yang sakit.” Kata mamaku panik dan terus-terusan menangis. “papa, Rika pinsan
pa. Gimana ini pa? Mama takut dia kenapa-kenapa.” Mamaku menelpon papaku dengan
suara yang panik. “mama tenang, Rika anak yang kuat kok. Rika tidak akan
kenapa-kenapa ma, mama tenang ya.... jangan panik, papa telpon taksi sekarang
dan bawa Rika ke Paviluin. Papa yang akan mengurus surat rawat inapnya.” Kata
papaku menenangkan hati mama. Setelah mamaku mulai tenang beliau membawaku ke
Paviliun untuk periksa dan rawat inap. Setelah aku sadar ternyata aku sudah
diinfus, rasanya sakit dan pegal sekali. Badanku lemas, nafasku sesak, aku
sulit membuka mata dan bergerak.
“Rika.. kamu
sudah sadar sayang? Mama dan papa sangat khawatir sama kamu.” Kata mamaku
sambil berlinang air mata. Saat itu aku mulai menangis, aku tidak tega melihat
kedua orangtuaku begitu panik dan takut. Aku sadar, ternyata mereka sangat
menyayangiku “lebih dari apapun. Seketika aku mulai berpikir, kenapa mereka
sangat kasar padaku kalau mereka menyayangiku? Aku tidak habis pikir. Mereka
yang tega memukulku sampai aku hampir pinsan, mereka yang tidak pernah lembut
padaku ternyata begitu terpukul saat melihatku tergolek lemah di tempat tidur
rumah sakit.
“tokk.. tokk.. tokk.. bagaimana Rika? Apa
keluhannya? Kamu sangat kekurangan cairan.” Kata dokter menyeramahiku. “hehehe
emang sampe segitunya ya dok? Pantes sehari aja infusnya 12. Cuma pusing,
demam, badannya sulit digerakkan dok. Terus sama perut bagian kiri bawah sakit
sekali. Kenapa ya dok?”. “Jadi begini Rika, setelah dilakukan cek darah, kamu
terkena gejala leukemia. Tapi ini hanya gejala, jadi kamu akan diberi obat
untuk menambah darah merah dan menekan darah putih. Darah putihmu semakin
tinggi karena ada infeksi di usus besarmu disebabkan parasit yang bersarang
disana. Kalau tidak segera diobati kamu bisa terkena leukemia lo Rika.” Kata
dokter menjelaskan. “apa dok? Leukemia? Kok bisa dok?” kataku panik. “Iya
tentu, ini baru gejala Rika. Mungkin dalam silsilah keluarga kamu ada yang
pernah terserang penyakit mematikan itu. Maaf pak, apakah anda memiliki
keluarga yang terkena leukemia?” tanya dokter pada papa. “iya dok, adik saya
meninggal saat berusia 16 tahun karena menderita leukemia stadium 4.” Papa
menjelaskan sambil berkaca-kaca. “bapak tidak perlu khawatir, kami akan
berusaha semaksimal mungkin untuk mengobati putri bapak. Ini baru gejala pak,
ini belum terlanjur dan dapat diobati. Ini resepnya, di rumah sakit ini tidak
tersedia obat tersebut, jadi bapak dapat membelinya hanya di apotek besar.
Cepat sembuh ya Rika, jangan lupa diminum obatnya.” Kata dokter sambil
menyuntikan ku obat.
Tepat hari ini, 14 desember 2014 usiaku 16 tahun,
apakah aku akan segera mati Tuhan? Apakah aku tidak bisa mengucapkan syukur
padamu lagi saat pagi hari seperti biasanya. Apakah kau akan segera mencabut
nyawaku Tuhan? Aku belum bisa membahagiakan kedua orangtuaku Tuhan. Aku mohon
padamu, sembuhkanlah penyakitku Tuhan, kumohon padamu!
Semakin hari kondisiku mulai membaik, setelah
seminggu dirumah sakit aku diperbolehkan pulang. Orang tuaku sangat bahagia,
aku melihat mereka tersenyum dan tertawa. “Papa dan mama minta maaf ya Rika,
kami sering berbuat kasar sama kamu. Kami janji, mulai sekarang kami akan
bersikap lebih baik dan lebih menyayangi kamu. Kamu pasti sembuh sayang, papa
yakin itu.” Kata kedua orangtuaku sambil memegang tanganku. “iya pa ma, aku
juga minta maaf karena merepotkan papa dan mama. Aku sangat sayang kalian,
terimakasih pa ma.” Kataku sambil menangis. Terkadang Tuhan memberikan kita
ujian untuk menjadikan kita menjadi lebih baik. Tuhan tidak akan memberikan
cobaan yang berat sampai umatnya tidak sanggup memikulnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar