Selasa, 20 Oktober 2015

Miracle in December


Seruan kicau burung di pagi hari membangunkan tidur lelapku, kuusap kedua mataku dan segera bangun. Membuka jendela, merasakan sejuknya udara pegunungan. Tetesan embun di dedaunan membuatku takjub, duduk diam dan berkata “terimakasih Tuhan, engkau masih membangunkanku dalam keadaan sehat tanpa kurang suatu apapun bersama orang-orang yang aku sayang.” Tak henti-hentinya aku mengucap syukur pada Tuhan berkat kemurahan hatinya aku masih bisa bernafas menikmati keindahan dunia ini.
“selamat pagi Rika” sapa kedua orangtuaku, orang yang paling berharga dihidupku. Aku rela melakukan apapun demi kedua orangtuaku tercinta, bahkan bila harus menjual ginjalku untuk mereka aku rela. Kami hidup bahagia dan kecukupan, “sarapan dulu Rika, nanti mag kamu kambuh kalo gak sarapan” kata mamaku sedikit membentak. Mamaku memang sedikit galak, beliau seorang ibu rumah tangga bertubuh gemuk dan sederhana. Berbeda dengan papaku yang sangat modern style dan jarang berbicara, tetapi sering memukulku. Aku hidup di keluarga yang labil, terkadang lembut tapi juga kasar. Aku sudah kebal sekarang, karena sering dipukul ditendang ditempeleng dan dibanting juga pernah. Sakit hati ini kalau mengingatnya.
Akhir-akhir ini penyakitku sering kambuh. Aku mulai sering merasa pusing, lemah, letih, dan lesu. Aku memang kekurangan darah merah dan terlalu banyak darah putih di tubuhku. “brukkkk....” aku pinsan. “Rika.. Rika.. bangun sayang, jangan membuat mama khawatir. Kamu kenapa sayang, apa yang sakit.” Kata mamaku panik dan terus-terusan menangis. “papa, Rika pinsan pa. Gimana ini pa? Mama takut dia kenapa-kenapa.” Mamaku menelpon papaku dengan suara yang panik. “mama tenang, Rika anak yang kuat kok. Rika tidak akan kenapa-kenapa ma, mama tenang ya.... jangan panik, papa telpon taksi sekarang dan bawa Rika ke Paviluin. Papa yang akan mengurus surat rawat inapnya.” Kata papaku menenangkan hati mama. Setelah mamaku mulai tenang beliau membawaku ke Paviliun untuk periksa dan rawat inap. Setelah aku sadar ternyata aku sudah diinfus, rasanya sakit dan pegal sekali. Badanku lemas, nafasku sesak, aku sulit membuka mata dan bergerak.
 “Rika.. kamu sudah sadar sayang? Mama dan papa sangat khawatir sama kamu.” Kata mamaku sambil berlinang air mata. Saat itu aku mulai menangis, aku tidak tega melihat kedua orangtuaku begitu panik dan takut. Aku sadar, ternyata mereka sangat menyayangiku “lebih dari apapun. Seketika aku mulai berpikir, kenapa mereka sangat kasar padaku kalau mereka menyayangiku? Aku tidak habis pikir. Mereka yang tega memukulku sampai aku hampir pinsan, mereka yang tidak pernah lembut padaku ternyata begitu terpukul saat melihatku tergolek lemah di tempat tidur rumah sakit.
“tokk.. tokk.. tokk.. bagaimana Rika? Apa keluhannya? Kamu sangat kekurangan cairan.” Kata dokter menyeramahiku. “hehehe emang sampe segitunya ya dok? Pantes sehari aja infusnya 12. Cuma pusing, demam, badannya sulit digerakkan dok. Terus sama perut bagian kiri bawah sakit sekali. Kenapa ya dok?”. “Jadi begini Rika, setelah dilakukan cek darah, kamu terkena gejala leukemia. Tapi ini hanya gejala, jadi kamu akan diberi obat untuk menambah darah merah dan menekan darah putih. Darah putihmu semakin tinggi karena ada infeksi di usus besarmu disebabkan parasit yang bersarang disana. Kalau tidak segera diobati kamu bisa terkena leukemia lo Rika.” Kata dokter menjelaskan. “apa dok? Leukemia? Kok bisa dok?” kataku panik. “Iya tentu, ini baru gejala Rika. Mungkin dalam silsilah keluarga kamu ada yang pernah terserang penyakit mematikan itu. Maaf pak, apakah anda memiliki keluarga yang terkena leukemia?” tanya dokter pada papa. “iya dok, adik saya meninggal saat berusia 16 tahun karena menderita leukemia stadium 4.” Papa menjelaskan sambil berkaca-kaca. “bapak tidak perlu khawatir, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengobati putri bapak. Ini baru gejala pak, ini belum terlanjur dan dapat diobati. Ini resepnya, di rumah sakit ini tidak tersedia obat tersebut, jadi bapak dapat membelinya hanya di apotek besar. Cepat sembuh ya Rika, jangan lupa diminum obatnya.” Kata dokter sambil menyuntikan ku obat.
Tepat hari ini, 14 desember 2014 usiaku 16 tahun, apakah aku akan segera mati Tuhan? Apakah aku tidak bisa mengucapkan syukur padamu lagi saat pagi hari seperti biasanya. Apakah kau akan segera mencabut nyawaku Tuhan? Aku belum bisa membahagiakan kedua orangtuaku Tuhan. Aku mohon padamu, sembuhkanlah penyakitku Tuhan, kumohon padamu!
Semakin hari kondisiku mulai membaik, setelah seminggu dirumah sakit aku diperbolehkan pulang. Orang tuaku sangat bahagia, aku melihat mereka tersenyum dan tertawa. “Papa dan mama minta maaf ya Rika, kami sering berbuat kasar sama kamu. Kami janji, mulai sekarang kami akan bersikap lebih baik dan lebih menyayangi kamu. Kamu pasti sembuh sayang, papa yakin itu.” Kata kedua orangtuaku sambil memegang tanganku. “iya pa ma, aku juga minta maaf karena merepotkan papa dan mama. Aku sangat sayang kalian, terimakasih pa ma.” Kataku sambil menangis. Terkadang Tuhan memberikan kita ujian untuk menjadikan kita menjadi lebih baik. Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang berat sampai umatnya tidak sanggup memikulnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar