Minggu, 18 Oktober 2015

Cerpenku, broken heart


Di pagi hari hujan gerimis turun, saat itu aku berharap hujan gerimis menjadi hujan deras, sederas air mataku yang terus terusan mengalir. Percikan air hujan seakan menyadarkanku bahwa aku harus segera bangkit dan berhenti menangis. Angin bertiup lembut menyapu rambut lurus sebahu yang menutupi wajahku, membuatnya tersibak kebelakang sehingga terlihat wajah murung penuh derita. Hatiku sakit, pikiranku kacau, aku seperti orang yang tidak memiliki semangat hidup sama sekali. Ingin rasanya aku menaiki pesawat jet lalu bertabrakan dengan planet lain dan akhirnya aku mati. Mungkin bila aku mati seperti itu aku tidak akan merasa sakit, pikirku tidak jelas.
Sampai di sekolah teman-teman memberiku pertanyaan bertubi-tubi “Kamu putus? Kenapa putus sih, padahal kalian cocok.” Seketika tangisanku tumpah kembali, layaknya bendungan yang tanggulnya sudah tidak sanggup mehanan tekanan dan menumpahkan beribu-ribu liter air ke luar. Teman-teman yang tadi menanyaiku mulai memelukku erat dan berkata “Maafkan aku ya, aku tidak bermaksud membuatmu menangis. Jangan menangis hanya karena laki-laki itu, kumohon.” Aku malah semakin keras menangis histeris dan berteriak “Aku mencitainya, aku tidak bisa hidup tanpa dia, aku akan memberikan apapun yang aku punya untuk dia. Aku mohon, mintalah dia untuk tetap disini disampingku.” Aku menangis histeris dan tersedu-sedu. Bola mataku merah, kantung mataku terlihat jelas, ingusku dan air mataku mengalir tak henti-henti.
Bel sekolah berbunyi “tet.. tet.. tet..” tanda pelajaran sudah dimulai. Pagi itu hari jumat, pelajaran pertama adalah olahraga. Aku berusaha untuk tetap tegar dan tidak menangis, berpura-pura tertawa dan tersenyum sebisaku dan berharap itu dapat menutupi kesedihanku. Rasanya berpura-pura bahagia itu perih, sakit sekali seperti tersayat sayat belati yang telah diasah sampai kulit dan lemak dapat terpisah dengan satu goresan.
“haiii... kok ngalamun.” Sapa mila “Ahhh nggak kok, aku cuma lagi lihat awan aja. Tumben ya mendung, biasanya kan panas banget.” Kataku. “Kamu lihat awan apa cogan sih?” fifi menggodaku. “Hehehe beneran kok lihat awan, sumpih. Tapi kalo ada cogan lewat ya dilirik gapapa dong, kan sekarang udah jombo.” “hahahahahahahahahahahaha, cie yang jomblo cepet dapet pacar ya” kata lita. Aku hanya bisa mengamini dan berdoa semoga aku dapat melupakannya. “yuk kantin, laper nih belum sarapan” kataku. Kemudian seperti biasa aku dan teman-teman yang lain makan bersama. Di dalam hatiku masih sakit, dan tak henti-hentinya mengingat kenangan yang aku lalui bersamanya.
Saat kembali ke kelas aku melihat seorang laki-laki yang menurutku OK, melihatku dan tersenyum padaku, ada semburat merah di kanan dan kiri pipinya. Entah kenapa aku bahagia, aku sangat bahagia saat melihatnya. Sampai aku sedikit melupakan rasa sakitku yang aku pikir patah hati akut yang tidak bisa disembuhkan. Sampai akhirnya dia mengatakan “Kasih pinmu!” Aku kaget seolah tak percaya, tapi sepertinya dia biasa saja saat mengatakannya. “ohh OK, scan barcode.” Aku gugup setengah mati,sampai tangan ku berkeringat dingin. Aku ingat, aku telah memendam perasaan padanya cukup lama tetapi aku sadar diri saja.
Malam harinya dia BBM “selamat malam cantik, lagi sibuk nangis ya?” “Nggak kok cuma lagi sedih aja, maklum habis putus, hahahaha” jawab ku. Selang beberapa saat HP ku berbunyi, dia mengirimi ku voice note. Aku langsung mendengarkannya, dia menyanyikanku lagu Last Child – Pedih. Hatiku berdegup kencang, aku langsung berhenti menangis, aku seperti terbang ke awan karena suaranya. Aku jatuh cinta padanya, benar benar jatuh cinta, aku sadar aku tidak bisa menutupi rasa cintaku padanya lagi. Suaranya dan gitarnya seakan menjeratku untuk tidak pergi darinya, melupakan semua kisahku dengan mantanku lalu membangun hubungan yang baru. HP ku berbunyi lagi, “Heh, kok gak dibales? Jelek ya? Kamu ga suka ya? Aku minta maaf klo ga suka, itu liriknya ada yang aku ganti lo. Kamu tau gak yang tumpahkan sakit itu dalam tangismu, itu aku ganti soalnya aku ga mau kamu nangis terus. Kamu pengen lagu apa sih?” katanya. “Aku suka lagu itu kok, aku gak akan nangisin mantanku lagi mulai sekarang, hehehe. Maksih ya, kamu udah bikin aku sadar. Aku tau aku sangat beruntung”. Hari itu adalah hari dimana aku menemukan semangat hidupku yang baru, bersamanya. . Karena cinta kasih didalam hati itu terbagi-bagi bagikan dahan pohon cedar. Jika pohon itu kehilangan satu dahan yang kuat, maka ia akan menderita namun tidak mati. Pohon itu akan menumpahkan seluruh daya hidupnya ke dalam dahan berikutnya, sehingga ia akan tumbuh dan mengisi dahan yang kosong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar