Di pagi hari hujan gerimis turun, saat itu aku
berharap hujan gerimis menjadi hujan deras, sederas air mataku yang terus
terusan mengalir. Percikan air hujan seakan menyadarkanku bahwa aku harus segera
bangkit dan berhenti menangis. Angin bertiup lembut menyapu rambut lurus sebahu
yang menutupi wajahku, membuatnya tersibak kebelakang sehingga terlihat wajah murung
penuh derita. Hatiku sakit, pikiranku kacau, aku seperti orang yang tidak
memiliki semangat hidup sama sekali. Ingin rasanya aku menaiki pesawat jet lalu
bertabrakan dengan planet lain dan akhirnya aku mati. Mungkin bila aku mati
seperti itu aku tidak akan merasa sakit, pikirku tidak jelas.
Sampai di sekolah teman-teman memberiku pertanyaan
bertubi-tubi “Kamu putus? Kenapa putus sih, padahal kalian cocok.” Seketika
tangisanku tumpah kembali, layaknya bendungan yang tanggulnya sudah tidak
sanggup mehanan tekanan dan menumpahkan beribu-ribu liter air ke luar.
Teman-teman yang tadi menanyaiku mulai memelukku erat dan berkata “Maafkan aku
ya, aku tidak bermaksud membuatmu menangis. Jangan menangis hanya karena
laki-laki itu, kumohon.” Aku malah semakin keras menangis histeris dan
berteriak “Aku mencitainya, aku tidak bisa hidup tanpa dia, aku akan memberikan
apapun yang aku punya untuk dia. Aku mohon, mintalah dia untuk tetap disini
disampingku.” Aku menangis histeris dan tersedu-sedu. Bola mataku merah,
kantung mataku terlihat jelas, ingusku dan air mataku mengalir tak henti-henti.
Bel sekolah berbunyi “tet.. tet.. tet..” tanda
pelajaran sudah dimulai. Pagi itu hari jumat, pelajaran pertama adalah
olahraga. Aku berusaha untuk tetap tegar dan tidak menangis, berpura-pura
tertawa dan tersenyum sebisaku dan berharap itu dapat menutupi kesedihanku. Rasanya
berpura-pura bahagia itu perih, sakit sekali seperti tersayat sayat belati yang
telah diasah sampai kulit dan lemak dapat terpisah dengan satu goresan.
“haiii... kok ngalamun.” Sapa mila “Ahhh nggak kok,
aku cuma lagi lihat awan aja. Tumben ya mendung, biasanya kan panas banget.” Kataku.
“Kamu lihat awan apa cogan sih?” fifi menggodaku. “Hehehe beneran kok lihat awan,
sumpih. Tapi kalo ada cogan lewat ya dilirik gapapa dong, kan sekarang udah
jombo.” “hahahahahahahahahahahaha, cie yang jomblo cepet dapet pacar ya” kata
lita. Aku hanya bisa mengamini dan berdoa semoga aku dapat melupakannya. “yuk
kantin, laper nih belum sarapan” kataku. Kemudian seperti biasa aku dan
teman-teman yang lain makan bersama. Di dalam hatiku masih sakit, dan tak
henti-hentinya mengingat kenangan yang aku lalui bersamanya.
Saat kembali ke kelas aku melihat seorang laki-laki
yang menurutku OK, melihatku dan tersenyum padaku, ada semburat merah di kanan
dan kiri pipinya. Entah kenapa aku bahagia, aku sangat bahagia saat melihatnya.
Sampai aku sedikit melupakan rasa sakitku yang aku pikir patah hati akut yang
tidak bisa disembuhkan. Sampai akhirnya dia mengatakan “Kasih pinmu!” Aku kaget
seolah tak percaya, tapi sepertinya dia biasa saja saat mengatakannya. “ohh OK,
scan barcode.” Aku gugup setengah mati,sampai tangan ku berkeringat dingin. Aku
ingat, aku telah memendam perasaan padanya cukup lama tetapi aku sadar diri
saja.
Malam harinya dia BBM “selamat malam cantik, lagi sibuk
nangis ya?” “Nggak kok cuma lagi sedih aja, maklum habis putus, hahahaha” jawab
ku. Selang beberapa saat HP ku berbunyi, dia mengirimi ku voice note. Aku langsung
mendengarkannya, dia menyanyikanku lagu Last Child – Pedih. Hatiku berdegup
kencang, aku langsung berhenti menangis, aku seperti terbang ke awan karena
suaranya. Aku jatuh cinta padanya, benar benar jatuh cinta, aku sadar aku tidak
bisa menutupi rasa cintaku padanya lagi. Suaranya dan gitarnya seakan
menjeratku untuk tidak pergi darinya, melupakan semua kisahku dengan mantanku
lalu membangun hubungan yang baru. HP ku berbunyi lagi, “Heh, kok gak dibales? Jelek
ya? Kamu ga suka ya? Aku minta maaf klo ga suka, itu liriknya ada yang aku
ganti lo. Kamu tau gak yang tumpahkan sakit itu dalam tangismu, itu aku ganti
soalnya aku ga mau kamu nangis terus. Kamu pengen lagu apa sih?” katanya. “Aku
suka lagu itu kok, aku gak akan nangisin mantanku lagi mulai sekarang, hehehe. Maksih
ya, kamu udah bikin aku sadar. Aku tau aku sangat beruntung”. Hari itu adalah
hari dimana aku menemukan semangat hidupku yang baru, bersamanya. . Karena cinta kasih didalam hati itu
terbagi-bagi bagikan dahan pohon cedar. Jika pohon itu kehilangan satu dahan
yang kuat, maka ia akan menderita namun tidak mati. Pohon itu akan menumpahkan
seluruh daya hidupnya ke dalam dahan berikutnya, sehingga ia akan tumbuh dan
mengisi dahan yang kosong.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar